Surat Untuk Saudara di Gaza
apa kabar saudaraku
juga saudariku
apa kau baik-baik saja di sana
apa pondokmu masih kokoh berdiri
atau sudah runtuh karna sekutu
maafkan aku karna lama mengirim sapa
maaf juga…
karna kutulis surat ini di atas secarik kertas amat biasa
saudara, juga saudariku
kudengar dari merpati
kau kini disekap badai kedzaliman
yang menembaki saudaramu juga saudaraku dengan timah panas
bukan sekadar gas air mata
yang menghujani negerimu dengan rudal nuklir
bukan sekadar petasan karet
saudaraku, juga saudariku
kubaca di warta dunia
negerimu kini banjir darah
banyak luka yang menganga
tubuh yang tercabik-cabik terkapar di tiap sudut kota
tak ada lagi karnaval tawa
yang ada hanya buncahan duka
tangis… air mata
hari-hari hanya penuh awas
tiap detik yang berdetak sibuk bertanya-tanya
apa detik berikutnya jantung ini masih berdenyut
dan napas ini masih menderu
maaf karena aku hanya bisa mencari tahu
itupun tak semudah menghirup udara
karena harus kuburu serdadu yang tahu
dan mau memberi tahu
saudara, saudariku
apa perlu aku ke situ
menghadang peluru yang menyerangmu
memberondong penghianat dengan runcingnya bambu
karena aku tak punya jubah anti peluru
rudal jarak jauh
apalagi tank yang tak tersentuh
hanya keyakinan dan harapan
yang bisa membantu aku jika aku ke situ
maka perlukah kau akan diriku?
satu hal yang kuyakin bisa kubantu
doaku pada Tuhanku
Ia yang Esa… Ia yang Kuasa…
Allah Subhanahu wa Ta’ala
Kupersembahkan untuk…
Rakyat Palestina, Lebanon, dan daerah-daerah konflik lainnya di mana saudara/i seimanku dibunuh dengan keji tanpa perikemanusiaan.
Depok – October 1, 2006 (sepulang STI FH UI 2006)
